Sejarah GKSBS

CERITA RINGKAS TENTANG
“40 TAHUN GKSBS BANDARJAYA”
KAUM MIGRAN DARIJAWA

1956
Tiga kepala keluarga Kristen- berjejal bersama sesama nya yang lain naik truk. dari Maron, Jawa Timur ke Lampung. Pada hitunganhari yang ke- tujuh mereka baru tiba di Batavia atau Jakarta. Hari ke-sembijan tiba: di Panjang dan hari kesepuluh tiba di Bandarjaya…Masih di tahun yang sama, tiga kepala -keluarga dari desa yang sama menyusul ke Bandarjaya, Lampung. Pada tahun inilah.mereka mengawali persekutuan dan “ngibadah” atau kebaktian rumah-tangga.

1957
Setelah berganti tahun, sepuluh kepala keluarga menyusul saudara-saudaranya di Lampung. Jumlah- keluarga Kristen di Bandarjaya menjadi Enam belas keluarga2. Mereka lebih tepat disebut “kaum migran” atau penduduk yang berpindah atas biaya sendiri. Bukan transmigran seperti yang dikenal luas. Dan lagi, Bandarjaya tidak termasuk “kapling untuk trahsmigran” A,B, C seperti Adijaya, Bumi Kencana, Cimpang Agung dll. Bandarjaya merupakan Tanah Marga, yang bisa dibeli oleh perorangan atau oleh Pemerintah untuk perkantoran atau untuk hunian warga masyarakat. Alhasil, Kehadiran sepuluh keluarga pada gelombang ketiga itu-membuat mereka-”makin hangat”. Kegiatan “ngibadah-pun” makin semangat sekalipun pada setiap hari Minggu mereka berpindah-pindah dari rumah ke rumah sesama untuk kebaktian rumah-tangga. Kebaktian rumah-tangga tidak pernah dilakukan malam hari. Kecuali karena gelap gulita, jalan setapak dua tapak yang ada masih bersemak-belukar rimbun/juga mengingat sekali dua disiang hari ada diantara mereka pernah berpapasan dengan “mbahe” alias si raja hutan. Kehadiran beberapa keluarga Kristen dari Jawa Tengah dan Yogyakarta menambah jumlah mereka, tidak lagi dalam hitungan belasan, tetapi sudah mencapai tigapuluhan keluarga. Tidak ada rumah yang cukup luas untuk menampung semua saat kebaktian hari Minggu. Rumah mereka kecil, sempit, berdinding kayu sebitan atau “gribik” dan beratap alang-alang.

BERDOA MOHON TEMPAT IBADAH

1958-1963
Tidak adanya termpat yang cukup untuk kebaktian, melahirkan ide untuk memiliki tempat ibadah. Maka usaha mewujudkan ide atau impian itu dimulai. Dibangunlah kontak atau lobby-lobby. Lobby ke Bayan, ke Kepala Kampung, ke Kantor Jawatan Transmigrasi dll. Mereka terus tekun berdoa, memohon agarTuhan mengabulkannya.

TANAH UNTUK GEREJA DARI PEMERINTAH
Berkat doa dan usaha serta dukungan warga masyarakat, Pamong Desa serta Pemerintah .(Jawatan Transmigrasi yang berkantor di Metro), umat Kristen mendapatkan dua bidang tanah dari Pemerintah. Pemerintah memberikan tanah tersebut dialamatkan untuk/kepada. Paguyuban Kristen, meliputi. tanah pekarangan (2.500 M2 dan ladang seluas 10.000 M2).
Catatan perkembangannya : .
1. Dalam perjalanan sejarahnya, pemberian tanah oleh Pemerintah itu disusul dengan Surat resmi dari : DIREKTORAT TRANSMIGRASI OBJEK WAY SEPUTIH -KANTOR TRANSMIGRASI KABUPATEN LAMPUNG TENGAH, Nomor : B/105/3/Ws/1971 tertangal 5 Oktober 197I3
2. Dua bidang tanah tersebut hingga saat ini masih utuh. Digunakan untuk Bangunan Gereja (50x50M di Jalan Manggis 94 Bandarjaya Barat) dan ladang (100×100 M di Bandarjaya Timur).

GOTONG ROYONGMEMBANGUN RUMAH IBADAH
Tanah sudah ada, namun masih belukar dan belum ada rumah untuk ibadah. Mereka mencari kayu di hutan untuk rumah ibadah. Kayu bulat yang kecil dan lurus untuk usuk atau reng; kayu bulat yang agak besar harus “dirimbas” menjadi “pesegen” untuk tiang. Yang lain mencari “sebitan” untuk binding. Lain waktu lagi cari alang-alang untuk atap. Yang perempuan masak
Aslinya terdokumentasi di GKSBS Bandarjaya.

menyiapkan makanan dan menunggu di rumah. Dibarengi doa, mereka gotong-royong seperti kesepakatan. Semingu dua minggu selesailah bangunan rumah ibadah berukuran 6 x 10 meter beratap alang-alang. Masih diperlukan semangat untuk membuat bangku-bangkunya. Maka gotong-royong lagi dan gotong-royong terus. Jadilah bangku-bangku ala kadarnya berbahan kayu sebitan. Masalah belum selesai. Setiap kali bangku gereja itu diduduki, sebentar dua bentar ambles…mbles,..mbles karena tanahnya lembek dan becek. Jumlah anak-anak kecil yang kebaktian “Sekolah Minggu” kira-kira 25 anak. Jumlah seluruh warga Kristen mencapai hampir 100 jiwa. Begitu cerita sampai dengan sekitar tahun 1963-an.

BAGAIMANA SEKOLAH ANAK-ANAK?

1964
Jumlah anak-anak makin banyak. Mereka Bertambah umur dan makin besar badannya. Mereka tiba waktunya untuk membutuhkan pendidikan atau sekolah. Bagaimana?
Orang-orang yang tua bersepakat dan bertekad bahwa anak-anak harus belajar atau sekolah. Maka “Gereja Rimbasan” itu digunakan. Kelas satu angkatan pertama berjumlah sekitar 25 anak yang mulai belajar pada bulan Juli 1964. Maka tanggal itu ditetapkan menjadi tanggal lahirnya SEKOLAH DASAR KRISTEN (SDK) Bandarjaya seperti yang sekarang dikenal.

MENJADI GEREJA DEWASA

31-12-1964
Desa Bandarjaya makin maju dan jumlah penduduk makin bertambah. Kebutuhan pelayanan Pendeta 4 makin meningkat dan tidak bisa dielakkan. Usaha untuk ber-Pendeta’ Jemaat sendiri dilakukan dan diawali dengan-usaha untuk berstatus menjadi.Gereja Dewasa. Gereja Dewasa adalah. gereja yang SDM-nya mampu memimpin, mengembangkan warga gerejanya, mampu membiayai kegiatannya dan mampu menanggung biaya hidup pendetanya sendiri. Usaha-usahg pembinaan ke-dalam menuju kesiapan menjadi “Gereja Dewasa” terus dilakukan dan diberkati Tuhan.

Pada tanggal 31 Desember 1964 dalam Kebaktian Jemaat yang dilayani oleh Pendeta5, ditetapkaniah bahwa Persekutuan Umat Kristen di Bandarjaya itu menjadi Gereja Dewasa dengan nama “GEREJA KRISTEN RINGIN TUNGGAL”6. Menurut – bapak Gubernur Lampung saat itu -nama “Gereja Kristen Ringin Tunggal” dirasa kurang pas. Beliau memberi saran agar gereja bernama “Gereja Kristen Lampung Bandarjaya”. Nama itulah yang seianjutnya dipakai sampai dengan tahun 1987.

4Ketika itu peiayanan pendeta dilaksanakan oleh Pdt. R.Siswodwijo, dari Metro. Beliau juga Anggota DPRD Lampung Tengah. Peiayanan pendeta terjadi 3-4 bulan satu kali.
5 Pdt. R.Pudjo Soewito dari Tanjung Karang. Karena di depan bangunan gereja ada sebatang pohon ringin.

ROMBONGAN KELUARGA KRISTEN DARI MARON, BUTAR
1965
Dengan datangnya serombongan besar keluarga dari Maron, Blitar, Jawa Timur yang diprakarsai dan di biayai oieh Sino’de Gerejd ‘Kristen Jawi Wetan (GKJW), dan juga adanya kelahiran maka jumiah umat Kristen di Bandarjaya bertambah. Mereka tingal di Seputihjaya dan menjadi kelompok umat Kristen di Seputihjaya, yang adalah bagian integral GKL Bandarjaya.

GEREJA DAN PENDETA
Sebagai Gereja Dewasa, mestinya GKL

1966-1988
Bandarjaya ber pendeta sendiri. Namun tidak mudah untuk mendapatkannya. Jumiah pendeta di Lampung saat itu hanya 3 atau 4 Pendeta saja. Pendeta R.Siswodwidjo.yang berdomisili di Metro kadang-kala melayani GKL Bandarjaya terutama peiayanan sakramen atau manten. Sesekali juga dilayani oieh Pdt. Abner Siswosoewito atau Pdt. R.” Pudjosoewito. Mereka semua pendeta utusan dari Sinode Gereja Kristen Jawa. yang “berkantor di Saiatiga untuk peiayanan di seluruh Lampung.
Setelah usa’na memanggil Pendeta Sugeng Sindu Prayitno dari Gunung Kidul, Yogyakarta gagai, barulah pada tahun 1974 berhasil memanggii sdr. Efrayim Poerwoatmodjo, Sarjana Muda Theologia – yang belum berjabatan pendeta, bahkan ketika itu masih bujangan. Setelah melalui proses gerejawi kemudian ditahbiskan menjadi Pendeta Jemaat GKL Bandarjaya. Beliau
melayani GKL Bandarjaya sampai dengan tahun 1984 lalu pindah ke Gereja Kristen Jawa di Salatiga,
Periode 1984 – 1988 GKL Bandarjaya tidak punya pendeta lagi. Maka selalu “pinjam/dipinjami pendeta” dari gereja lain untuk pelayanan-pelayanan khusus, yaitu : Pdt. Slamet Raharjo (Semulijaya), Pdt. Supriyanto Hadi Kusumo (Dayamurni), Pdt. Timotius Budi Raharjo (Varia Agung).
Terhitung sejak 1 Januari 1989 s/d sekarang GKL/GKSBS7 Bandarjaya dilayani oleh Pendeta Tri Joko Hadi Nugroho, S.Th. Sebelum melayani GKL Bandarjaya ini, beliau melayani Umat Kristen transmigran di Sarolangon Bangko, Jambi sejak 1984.

GKSBS BANDARJAYA MAS A KINI . . .
Gereja Kristen Sumatera Bagian selatan (GKSBS) Bandarjaya :
1. Adalah Jemaat dalam Sinode Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan, sesuai Keputusan Dirjen Bimas Kristen (Protestan) Departeman Agama Rl No.100/1987. .Beralamat di – : . Jl. Manggis 94 Bandarjaya Barat, Lampung.Tengah. 34162.. . ,.
2. Seiuruh Gereja GKSBS yang tersebar di 5 Propinsi (Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung dan Bangka Belitung) adaiah Anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), berkantor pusat di Jakarta.
3. Di Lampung Tengah, merupakan Gereja tertua. Memikul tanggung-jawab ‘ moral yang besar untuk membina Kerukunan Antar Umar Beragama. Bersama-sama dengan
MUI, PHDi;- Walubi dan Dewan Paroki, GKSBS. Bandarjaya sebagai “Anggota PGI aktip di Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB) Lampung Tengah. Dalarrvhal.ini, Pdt.Tri.Joko Hadi Nugroho sebagai Sekretaris FKUB Lampung Tengah.
4. Bersama Pimpinan dan Umat Beragama se-Lampung Tengah aktip dalam mensukseskan Program DOA BERSAMA UMAT BERAGAMA Lampung Tengah yang digagas dan diprakarsai Bapak Bupati Lampung Tengah (Bp. .Andi Ahmat J.aya Sampurna) sejak tahun 2001.
5. Pada akhir tahun 2004, di usianya yang’ke-40 tahun.atau per 31 Desember 2004 Anggota Jemaat .GKSBS Bandarjaya
- berjumlah 1.056 liwa.
ikhtisar kiprah gereja di tengah aaasyarakat 1964 – 2004 Tahun keterangan ‘
1964 Mendirikan Sekolah Dasar Kristen (SDK)
1976 Bersama YPK Lampung mendirikan SMP Kristen
1981 Bersama YPK Lampung mendirikan TK Kristen “Pamerdisiwi”
1989 Bersama YPK Lampung mendirikan SMA-Kristen

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s